Kepala BPOM Sampaikan Gagasan Vaksin Maternal di Harvard Medical School, Perkuat Peran Indonesia dalam Kesehatan Global

01-04-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 502 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Boston, Amerika Serikat - Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan gagasan strategis terkait pengembangan vaksin maternal dalam guest lecture di Harvard Medical School pada Senin (30/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja pada 30–31 Maret 2026. Melalui forum akademik global ini, BPOM memperkuat diplomasi sains sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai kontributor dalam pengembangan kebijakan kesehatan dunia.

Melalui paparannya yang berjudul Maternal Immunization against Group B Streptococcus–Immune Correlates, Microbiome Trade-offs, and Global Implementation Challenges, Taruna Ikrar mengangkat isu beban global Group B Streptococcus (GBS) sebagai salah satu penyebab utama infeksi serius pada bayi baru lahir. Secara global, GBS diperkirakan menyebabkan sekitar 390.000 kasus infeksi invasif setiap tahun, dengan hampir 100.000 kematian bayi dan kasus lahir mati (stillbirth), terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Taruna menjelaskan bahwa pendekatan pencegahan yang selama ini digunakan, yakni pemberian antibiotik saat persalinan (intrapartum antibiotic prophylaxis/IAP), efektif menurunkan kasus awal. Namun, ada keterbatasan untuk tujuan perlindungan jangka panjang.

“IAP atau intrapartum antibiotic prophylactics itu bagus, tapi punya keterbatasan. Jadi, berdasarkan rasionalitas itu kita perlu berpikir kenapa vaksin itu penting. Karena sebagai ilmuwan kita berpikir seperti ini, kalau satu jenis obat atau terapi tidak efektif, maka kita harus pikirkan cara lain untuk melindungi,” jelas Taruna Ikrar.

Ia juga menyoroti meningkatnya ancaman resistansi antimikroba. Berdasarkan data BPOM, resistansi terhadap antibiotik golongan penisilin di Indonesia telah mencapai sekitar 43%. “Itu berbahaya, itu yang saya katakan bisa menjadi silent pandemic,” tegasnya.

Sebagai solusi, Taruna mendorong pengembangan vaksin maternal GBS yang dinilai mampu memberikan perlindungan lebih luas, baik terhadap infeksi awal maupun lanjutan, serta mencegah dampak jangka panjang. “Dengan kita mengusulkan vaksin maternal untuk group beta streptococcus, saya percaya kita bisa melindungi early onset disease. Kita juga bisa melindungi late onset disease, juga stillbirth, menjaga microbiome neonatal, dan menghilangkan potensi antimicrobial resistance,” ujar Taruna Ikrar.

Taruna menegaskan dalam perspektif regulasi, bahwa peran otoritas seperti BPOM terus berkembang, tidak hanya sebagai pemberi persetujuan, tetapi juga sebagai aktor strategis dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan masyarakat. “Regulator tidak lagi hanya menjadi penjaga gerbang, tetapi harus mampu menyeimbangkan inovasi, keamanan, dan kepercayaan publik,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan inisiatif BPOM dalam mendorong percepatan akses melalui pendekatan conditional marketing authorization. “Saya mengembangkan pendekatan baru, yaitu conditional marketing authorization, artinya kalau sudah melalui fase 1 dan fase 2, maka bisa diberikan izin bersyarat untuk digunakan sambil data fase 3 dikumpulkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Taruna menekankan pentingnya kolaborasi global antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam menjawab tantangan kesehatan dunia. “Saya ingin Indonesia juga menjadi salah satu yang memimpin dalam pengembangan vaksin dan saya percaya itu tidak mudah. Karena itu, saya melihat peluang untuk berkolaborasi dengan Harvard Medical School,” ujarnya.

Di tengah penyampaian ilmiah tersebut, Taruna juga mengungkapkan rasa bangga dapat kembali hadir di forum akademik kelas dunia. “Saya sangat bangga bisa berbicara di depan kalian semua. Ini adalah sekolah kedokteran terbaik di dunia dan saya berharap dari sini bisa lahir ide baru untuk mengembangkan vaksin,” ungkap Taruna Ikrar.

Ia menilai kehadirannya di Harvard merupakan bentuk pengakuan atas kapasitas keilmuan sekaligus representasi Indonesia dalam percaturan kesehatan global. Kegiatan ini sekaligus memperkuat posisi BPOM sebagai otoritas regulator yang kredibel di tingkat internasional, seiring dengan capaian sebagai WHO-Listed Authority (WLA). Indonesia tidak lagi hanya menjadi objek kebijakan, tetapi turut berkontribusi aktif dalam membentuk arah kebijakan kesehatan global berbasis sains dan inovasi.

Selain penyampaian guest lecture, dalam rangkaian kunjungan kerjanya kali ini, Taruna Ikrar melakukan pertemuan strategis dengan Alessio Fasano P, Professor of Pediatrics Harvard Medical School/Senior Vice President Research and Development, Science and Medical Affairs, Mead Johnson Nutrition. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas inovasi produk nutrisi dan pangan olahan berbasis sains, serta peluang kerja sama dalam meningkatkan kualitas gizi anak di Indonesia. Pertemuan ini juga menyoroti pentingnya penguatan kolaborasi berbasis konsep Academia-Business-Government (ABG) dalam mendukung pengembangan inovasi yang tetap sejalan dengan prinsip keamanan dan perlindungan konsumen.

Pada 31 Maret 2026, Taruna juga melakukan courtesy call dengan Konsul Jenderal Republik Indonesia di Los Angeles Purnomo Ahmad Chandra. Dalam pertemuan tersebut, dibahas upaya penguatan kerja sama internasional dalam pengawasan obat dan makanan, serta penguatan peran BPOM dalam diplomasi kesehatan global pasca pencapaian status WLA.

Melalui berbagai agenda tersebut, Kepala BPOM terus mendorong terlaksananya sinergi lintas sektor di bidang kesehatan. Dengan perkuatan sinergi lintas sektor, Taruna berharap inovasi di bidang kesehatan dapat terus lahir dan diakses secara aman, efektif, dan merata bagi masyarakat luas. (HM-Laras/HM-Herma)

 Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana