Sydney, Australia - Kepala BPOM Taruna Ikrar berkesempatan meninjau fasilitas Laboratory Research BioNyeri yang berlokasi di Hornsby, New South Wales (NSW). Laboratorium ini merupakan pusat riset dan pengembangan berbasis teknologi tinggi yang mengolah senyawa bioaktif dari tanaman Indonesia untuk digunakan dalam manajemen nyeri dan pengembangan produk alami generasi baru. Kehadiran Taruna Ikrar di fasilitas tersebut pada Sabtu (23/8/2025) diterima oleh Chairman dan Co-Founder BioNyeri Eng Liang Tan serta Co-Founder dan ilmuwan senior dalam bidang neuroimunologi Prof. Gilles Guillemin, bersama tim peneliti BioNyeri.
“BioNyeri merupakan contoh nyata bagaimana potensi keanekaragaman hayati Indonesia dapat dimanfaatkan secara ilmiah dan inovatif. Saya sangat terkesan dengan pendekatan riset mereka yang menggabungkan bahan alami dengan teknologi kecerdasan buatan untuk menciptakan solusi kesehatan masa depan,” ujar Taruna Ikrar.
BioNyeri telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga kesehatan dan riset di Indonesia, termasuk RS Kanker Dharmais, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan RSUP Dr. Sardjito. Laboratorium ini juga dilengkapi Fasilitas PC2 atau physical containment Level 2 yang terakreditasi Office of Thee Gene Technology Regulator (OGTR), untuk menjamin standar keamanan dan kualitas tinggi dalam proses penelitian. Laboratorium dengan fasilitas PC2 adalah laboratorium yang dirancang dengan standar keselamatan khusus untuk menangani agen infeksius tingkat sedang yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi peneliti dan lingkungan. Saat ini, laboratorium tersebut tengah mengembangkan proyek BioKanker.
“Kami percaya bahwa kolaborasi dengan BPOM dan institusi di Indonesia akan memperkuat fondasi riset berbasis bahan alam dari Indonesia. Kami ingin menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan modern dan warisan kekayaan alam Indonesia,” ujar Eng Liang Tan dalam pertemuan dengan Kepala BPOM.
BPOM menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan obat tradisional berbasis tanaman Indonesia melalui kerja sama internasional yang strategis dan berkelanjutan. Kolaborasi semacam ini dinilai mampu meningkatkan daya saing produk kesehatan nasional dan memperluas akses pasar global.
“Sebagai otoritas regulatori, BPOM berkomitmen menjaga keamanan dan mutu produk, sekaligus mendorong inovasi. Kami melihat potensi besar dalam riset seperti ini untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia dan dunia,” tambah Taruna.
Di hari yang sama, Kepala BPOM mengadakan pertemuan dengan diaspora Indonesia di Sydney. Mereka merupakan mahasiswa penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang melanjutkan pendidikan di University of Sydney dan University of New South Wales (UNSW), komunitas dokter Indonesia, peneliti, dan perwakilan jaringan Indonesia Diaspora Network–NSW.
Pertemuan yang diselenggarakan di Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney ini dibuka oleh Konjen RI di Sydney Pendekar Muda Leonard Sondakh. Dalam sambutannya, Konjen RI menyampaikan pentingnya sinergi antara pemerintah Indonesia dengan diaspora dalam mendukung diplomasi kesehatan dan inovasi regulatori.
“Peran diaspora sangat strategis, terutama dalam menjembatani keilmuan, riset, serta memperkuat jejaring internasional. Kami menyambut baik keterbukaan BPOM untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen diaspora,” ujar Leonard.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BPOM menjelaskan peran dan capaian BPOM dalam pengawasan produk obat dan makanan, termasuk kesiapan BPOM untuk masuk ke dalam daftar WHO Listed Authority (WLA). Ia juga mengajak diaspora untuk turut berperan aktif dalam mendukung penguatan sistem regulasi dan riset kesehatan Indonesia.
“Kami membuka peluang kolaborasi dengan diaspora sesuai dengan prinsip ABG (academics, business, government). Keterlibatan diaspora dalam ekosistem inovasi dan pengawasan produk kesehatan sangat penting untuk mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional,” tutur Taruna.
Di hari yang sama, Kepala BPOM juga menghadiri kegiatan Indonesia Independence Day Festival and Fun Night yang digelar oleh Indonesia Community Council-NSW. Kegiatan ini menghadirkan pertunjukan seni serta pameran produk, termasuk pangan, khas Indonesia sebagai bagian dari peringatan 80 tahun kemerdekaan RI.
Melalui kegiatan kolaborasi dengan pemerintah Australia serta para diaspora, Taruna Ikrar berharap dapat semakin mempererat hubungan antara Indonesia, yang dalam hal ini diwakili BPOM dan pemangku kepentingan internasional. Hal ini sekaligus diharapkan menjadi akses untuk mengakselerasi posisi Indonesia dalam rantai pasok dan regulasi global di bidang farmasi, obat tradisional, dan pangan olahan. (HM-Benny)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
