Kolaborasi Regulator dan Organisasi Profesi dalam Upaya Peningkatan Keselamatan Pasien

04-03-2024 Umum Dilihat 12935 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – “Jangan takut melaporkan adanya medication error atau adanya kejadian efek samping obat.” Demikian imbau Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM RI, L Rizka Andalusia kepada peserta Seminar Himpunan Senat Farmasi Rumah Sakit (HISFARSI) DKI Jakarta pada Minggu (03/03/2024). “Pelaporan akan ditindaklanjuti dengan solusi yang membangun. Pastikan pelaporannya lengkap. Teman-teman juga dapat memberikan masukan terkait pelaporan yang mudah,” ujarnya lebih lanjut.

Dalam keynote speech-nya pada seminar yang mengangkat tema Farmakovigilans: Strategi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien ini, Plt. Kepala BPOM menegaskan peran penting apoteker. Ia menyatakan bahwa apoteker merupakan garda terdepan dalam mengawal jaminan keamanan, khasiat/manfaat, dan mutu obat. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, apoteker memiliki peran vital mulai dari produksi, pengadaan, penyaluran, hingga pelayanan sediaan farmasi sesuai dengan standar mutu produk dan pelayanan.

Menurut Plt. Kepala BPOM, peran pemerintah sebagai regulator dalam pengawasan obat tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan dan peran aktif dari apoteker. Salah satu tugas penting apoteker adalah memberikan edukasi kepada masyarakat. Membangun awareness masyarakat untuk menggunakan obat yang aman dan tidak menyalahgunakan obat. Karena itu, BPOM membuka pintu seluas-luasnya untuk berdiskusi, berkolaborasi harmonis, dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.

Ketua HISFARSI DKI Jakarta, Renni Septini juga menekankan pentingnya kolaborasi. Renni Septini mengungkapkan penyelenggaraan seminar hari ini merupakan perwujudan ide dua tahun yang lalu, saat HISFARSI menerima surat komplain terkait kejadian tidak diinginkan yang terjadi di rumah sakit. “Gunakan seminar ini sebagai kesempatan untuk berkolaborasi, tidak hanya mendengarkan presentasi,” tuturnya.

Setelah menyimak keynote speech, peserta seminar diajak berdiskusi dengan Plt. Kepala BPOM, Direktur Registrasi Obat, dan Direktur Keamanan, Mutu dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif yang juga menjadi narasumber dalam seminar ini. Upaya BPOM dalam melakukan pemantauan efek samping obat, regulasi 2D barcode, aturan penandaan dan labelling obat, dan pelaporan efek samping obat menjadi beberapa hal yang ditanyakan para peserta. 

Salah satu peserta seminar menyampaikan apresiasinya terkait kemudahan dalam melaporkan efek samping obat melalui e-Meso milik BPOM. “Aplikasi e-Meso cukup mudah. Ketika kami sudah melaporkan akan mendapatkan notifikasi bahwa laporan sudah diterima. Saya mengusulkan agar ada update secara rutin terkait efek samping obat-obat baru,” ujarnya. 

Usulan tersebut disambut baik oleh BPOM. Pelaporan efek samping obat dan/atau kejadian tidak diinginkan dari tenaga kesehatan menjadi input bagi BPOM dalam merumuskan kebijakan, mitigasi, ataupun upaya regulatori yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Terutama, pencegahan dampak dari risiko keamanan obat yang lebih luas dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat.

Setelah sesi diskusi, peserta seminar kembali mendapatkan materi dari tiga narasumber, yaitu Direktur Keamanan, Mutu dan Ekspor Impor Obat Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif dengan materi “Upaya BPOM dalam Mengatur dan Mengawasi Produk Obat Look Alike Sound Alike (LASA). Dilanjutkan dengan paparan dari Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Karier Apoteker Rumah Sakit HISFARSI dengan materi “Penyusunan Daftar Obat High-Alert Di Rumah Sakit” dan terakhir, paparan dari perwakilan Dexa Group dengan materi mengenai “Peran Industri Farmasi Dalam Mencegah Kesalahan Pengobatan (Medication Error)”. (HM-Nelly)

 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana