Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015

07-01-2015 Umum Dilihat 9439 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Umum

ASEAN merupakan wadah kerjasama bagi 10 negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk mencapai kemakmuran bersama. Kerjasama ASEAN sudah dirintis sejak tahun 1967, dan lebih intensif ditingkatkan pada tahun 90an terutama di bidang ekonomi. Berangkat dari kesepakatan pembentukan AFTA (ASEAN Free Trade Area) pada tahun 1992, maka pada tahun 2003 melalui Bali Concord II, ASEAN sepakat untuk membentuk Masyarakat ASEAN (ASEAN Community) pada tahun 2020 dibidang Keamanan Politik (ASEAN Political Security Community), Ekonomi (ASEAN Economic Community/Masyarakat Ekonomi ASEAN), dan Sosial Budaya (ASEAN Socio-Culture Community). Namun pada tahun 2007 disepakati untuk mempercepat target pencapaian Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015, untuk itu disusunlah Piagam ASEAN (ASEAN Charter) dan Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memuat 4 pilar utama yaitu :

  1. ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi yang didukung dengan elemen arus pergerakan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja trampil dan arus modal yang lebih bebas;
  2. ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen kebijakan persaingan, perlindungan konsumen, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan e-commerse;
  3. ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan prakarsa integrasi ASEAN terutama integrasi ekonomi negara-negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos dan Vietnam)
  4. ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan pendekatan yang koheren melalui perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Area/FTA) dan kemitraan ekonomi yang lebih erat (Closer Economic Parnertship/CEP) serta partisipasi yang lebih kuat dalam jejaring pasokan global.



Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan diterapkan pada akhir 2015 bukanlah suatu kejadian yang mendadak, namun sudah dirancang dan dipersiapkan bertahun-tahun sejak awal tahun 2003-an. Berbagai langkah persiapan telah dilakukan walaupun pada kenyataannya tergantung pada usaha dari masing-masing negara ASEAN dalam menghadapi penerapan MEA tersebut. Untuk saat ini terdapat 12 sektor prioritas yang diintegrasikan dalam perdagangan di ASEAN yakni :

  1. Produk berbasis kayu (Wood based products)
  2. Otomotif (Automotives)
  3. Produk berbasis Karet (Rubber based products)
  4. Tekstil dan Pakaian (Textiles and apparels)
  5. Produk berbasis pertanian (Agro based products)
  6. Perikanan (Fisheries)
  7. Elektronik dan kelistrikan (Electronics and Electricity)
  8. e-ASEAN
  9. Produk terkait dengan pelayanan kesehatan (Healthcare)
  10. Transportasi Udara (Air travel)
  11. Pariwisata (Tourism)
  12. Logistik (Logistics)

 

Dalam hal ini Badan POM juga ikut berperan dalam mensukseskan implementasi MEA 2015 terutama untuk produk-produk terkait kesehatan (health care products) dan pangan olahan, melalui harmonisasi standar dan persyaratan yakni produk obat, obat tradisional, kosmetika, suplemen kesehatan dan pangan olahan.

 

PELUANG DAN TANTANGAN

a.    Peluang  yang dihadapi Indonesia dalam implementasi MEA 2015:

  1. Indonesia adalah salah satu negara terbesar populasinya yang ada di kawasan ASEAN dan kekayaan sumber daya alam Indonesia merupakan keuntungan domestik (local-advantage) yang tetap menjadi daya tarik kuat. Selain itu dari sisi demografi Sumber Daya Manusia, Indonesia sebenarnya merupakan salah satu negara yang produktif karena faktor usia sebagian besar penduduk Indonesia atau sekitar 70% nya merupakan usia produktif.
  2. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai sangat positif dan cenderung stabil dan tidak terpengaruh krisis global. Indonesia mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup bagus, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia (4,5%) setelah RRC dan India. Ini akan menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju AEC tahun 2015.
  3. Indonesia merupakan salah satu basis produksi yang besar di ASEAN disamping Thailand, Philipina dan Vietnam sehingga peluang untuk ekspor produk-produk tersebut cukup besar.

 

b.    Tantangan yang dihadapi Indonesia dalam implementasi MEA 2015

  1. Laju peningkatan Ekspor dan Impor dimana Eksportir Indonesia berada urutan ke 4 dan Importir tertinggi ke 3 setelah Singapura dan Malaysia.
  2. Laju inflasi Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan dengan negara lain dikawasan ASEAN.
  3. Kemampuan daya saing SDM tenaga kerja Indonesia harus ditingkatkan baik secara informal maupun formal.
  4. Kemampuan dan daya saing UMKM Indonesia perlu ditingkatkan.
  5. Percepatan investasi di Indonesia tertinggal bila dibanding dengan negara ASEAN lainnya.

 

c.    Tantangan yang harus dihadapi Badan POM pada saat berlakunya arus perdagangan bebas  adalah sebagai berikut:

  1. pengawasan obat dan makanan semakin kompleks seiring dengan masuknya produk-produk impor.
  2. penegakan hukum terhadap produk-produk yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan khasiat/manfaat harus semakin intensif  dan tegas sehingga menimbulkan efek jera bagi pihak-pihak yang melakukan pelanggaran hukum.
  3. peningkatan daya saing produk dalam negeri terutama produk UKM melalui peningkatan kepatuhan pemenuhan terhadap ketentuan dan memenuhi standar mutu.

 

STRATEGI
Terkait dengan strategi umum menuju MEA tahun 2015
a.    Strategi Nasional

  1. Penyesuaian, persiapan dan perbaikan regulasi baik secara kolektif maupun individual (reformasi regulasi)
  2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia baik dalam birokrasi maupun dunia usaha ataupun profesional
  3. Penguatan posisi usaha skala menengah kecil
  4. Penguatan kemitraan antara publik dan sektor swasta (Public Private Partnership)
  5. Menciptakan iklim usaha yang kondusif dan mengurangi ekonomi biaya tinggi
  6. Pengembangan sektor-sektor prioritas yang berdampak luas dan komoditi unggulan
  7. Peningkatan partisipasi institusi pemerintah maupun swasta untuk mengimplementasikan Cetak Biru MEA
  8. Reformasi kelembagaan dan kepemerintahan. Dalam hal ini Cetak Biru MEA merupakan salah satu program reformasi bersama yang dapat dijadikan referensi bagi reformasi di negara anggota ASEAN termasuk Indonesia.
  9. Penyediaan kelembagaan dan permodalan yang mudah diakses oleh pelaku usaha dari berbagai skala.
  10. Perbaikan infrastruktur fisik melalui transportasi, telekomunikasi, jalan tol, pelabuhan, logistik, revitalisasi dan restrukturisasi industri dan lain-lain.


b.    Strategi Badan POM menhadapi MEA 2015 :

  1. Melakukan penyesuaian regulasi, peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan,
  2. Pembinaan terhadap industri/UKM dalam rangka peningkatan daya saing yaitu melalui cara produksi yang baik (untuk menghasilkan produk yang aman, bermutu, bermanfaat/berkhasiat),
  3. Peningkatan kemitraan dengan seluruh stakeholder dalam mewujudkan MEA.
  4. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan kepercayaan diri masyarakat dalam melakukan pemilihan berbagai macam produk sesuai dengan kebutuhan dan yang aman, bermutu dan bermanfaat.

 

 

Biro KSLN

 

 

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana