Obat Bahan Alam dan Interaksinya dengan Obat Kimiawi

10-06-2005 Umum Dilihat 17429 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Umum

Dewasa ini, penggunaan obat bahan alam atau obat herbal semakin marak di masyarakat kita. Anggapan bahwa obat bahan alam lebih aman dari obat kimia atau penggunaan yang bersamaan antara obat bahan alam dan obat kimia tidak memberikan reaksi yang merugikan, tampaknya perlu dicermati kembali kebenarannya. Buletin WHO Drug Information telah secara khusus mencantum-kan adanya banyak laporan mengenai reaksi yang merugikan pada penggunaan yang bersamaan antara obat herbal dan obat kimia. Badan Regulasi Produk Obat Herbal di Kanada sejak Januari 2004 telah menetapkan aturan yang diberlakukan secara bertahap selama 6 tahun, yaitu mewajibkan pelaporan efek samping obat bahan alam oleh semua industri. Profesional kesehatan dan konsumen juga disarankan untuk lebih waspada terhadap kejadian efek samping akibat penggunaan obat bahan alam dan ikut berperan dalam memberikan laporannya ke badan regulasi. Dunia kesehatan Kanada telah memberi contoh 3 tanaman obat yang paling populer disana, yaitu echinacea, ginkgo biloba dan St. John’s worth untuk menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap keamanan penggunaan tanaman obat. Database reaksi yang tidak diinginkan yang dipakai sebagai acuan oleh Departemen Kesehatan Kanada adalah database reaksi yang terjadi secara spontan yang di-dokumentasikan pada perioda 1 Januari 1998 hingga 30 Juni 2003. Penggunaan echinacea dapat menyebabkan reaksi alergi, termasuk reaksi anafilaksis. Terdapat 23 laporan yang masuk dalam database Depkes Kanada, yang diduga merupakan reaksi yang tidak diinginkan dari penggunaan echinacea. 4 kasus diantaranya merupakan reaksi alergi dan 3 laporan dari kasus ini merupakan reaksi setelah menggunakan produk yang mengandung echinacea tunggal. Gejala- gejala yang muncul mulai dari kulit kemerahan hingga pembengkakan pada lidah dan bibir dan reaksi anafilaktik. Terdapat 21 laporan yang merupakan laporan kasus reaksi yang tidak diinginkan dari penggunaan ginkgo biloba. Sebagian besar merupakan reaksi gangguan pembekuan darah, perdarahan dan platelet. Hal ini sesuai dengan kemampuan ginkgo untuk menghambat faktor pengaktifan platelet. Satu laporan kasus fatal merupakan kasus perdarahan saluran cerna, dimana produk yang diduga menjadi penyebabnya adalah tiklopidin dan ginkgo. Keduanya diminum selama 2 tahun, bersama-sama juga dengan obat-obat lain. Ada juga laporan kejadian stroke pada pasien yang mengkonsumsi klopidogrel, asetosal bersama-sama dengan ginkgo. Oleh sebab itu, harus menjadi perhatian yang khusus bila ginkgo digunakan bersamaan dengan obat-obat yang berpengaruh terhadap agregasi platelet, seperti misalnya warfarin, asetosal, OAINS, tiklopidin dan klopidogrel. Pasien juga perlu diberi informasi bahwa penggunan ginkgo harus dihentikan sekurang-kurangnya 36 jam sebelum dilakukan tindakan operasi. Pada kasus penggunaan tanaman obat St. John’s wort, penggunaan bersamaan dari obat-obat yang merupakan zat CYP3A4 dengan tanaman ini akan menyebabkan penurunan kadar obat-obat ini dalam plasma karena tanaman St. John’s wort merupakan penginduksi sitokrom P450 yang sangat kuat. Penurunan kadar dalam plasma dari obat - obat tersebut menyebabkan perlunya dilakukan penyesuaian dosis bila digunakan bersamaan dengan St. John’s wort. Selain dari itu, tanaman ini dapat menginduksi sindrom serotonin, yang mengakibatkan peningkatan penghambatan ‘reuptake’ serotonin (5-HT), jika diberikan bersama-sama dengan obat-obat inhibitor 5-HT ‘reuptake’. Terdapat 45 laporan reaksi obat yang tidak diinginkan yang diduga akibat penggunaan dari St. John’s wort. Reaksi-reaksi yang umum terjadi adalah reaksi yang gangguan sistem saraf pusat dan perifer dan gangguan kejiwaan. Dua kasus merupakan sindroma serotonin akibat penggunaan yang bersamaan dengan sertralin (inhibitor 5-HT ‘reuptake’) dan interaksi dengan venlafaksin. Terdapat dua kasus lainnya yang merupakan kasus mania, akibat interaksi St. John’s wort dengan lithium pada satu kasus dan interaksi dengan bupropion pada kasus lainnya. Ada pula penelitian yang dipublikasikan pada journal Annals of Internal Medicine Juli 2004 yang menyebutkan bahwa ginseng Amerika dapat menurunkan efek antikoagulan dari warfarin. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain “randomized, double blind, placebo-control trial” dan dilakukan selama 4 minggu serta melibatkan 20 orang sehat yang diberi warfarin selama 3 hari pada minggu pertama dan keempat. Pada awal minggu kedua, pasien diberi ginseng Amerika atau placebo. Kemudian INR (International Normalized Ratio) dan kadar warfarin dalam plasma diukur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa INR pasien menurun secara signifikan setelah pemberian ginseng selama 2 minggu dibandingkan dengan placebo. (Perbedaan antara kelompok ginseng dan placebo, -0,19 (CI 95%, Deviasi -0,36 s/d -0,07, P= 0,0012). Begitu pula dengan kadar warfarin dalam plasma juga menurun secara signifikan di kelompok ginseng, dibanding dengan kelompok placebo. INR dan kadar warfarin dalam plasma berbanding lurus. Penelitian dilakukan di General Clinical Research Center, University of Chicago, Chicago - Illinois. Walaupun penelitian ini dilakukan pada orang sehat, namun hasil penelitian ini dapat menjadi peringatan bagi para tenaga kesehatan seperti dokter dan apoteker agar menginformasikan kemungkinan terjadinya interaksi antara ginseng dan warfarin kepada pasien yang harus minum warfarin. Pada publikasi Lancet tahun 2000, telah disebutkan pula bahwa kasus perdarahan selain disebabkan oleh penggunaan yang bersamaan antara ginkgo dan warfarin, dapat pula akibat penggunaan yang bersamaan antara warfarin dengan garlic (Allium sativum), dong quai (Angelica sinensis) atau danshen (Salvia miltiorrhiza). Kemudian, St John’s wort selain dapat menyebabkan sindroma sero-tonin, dapat pula menurunkan bioavailabilitas digoksin, teofilin, siklosporin; dapat menginduksi mania pada pasien depresi yang mencampur antidepresan dengan Panax ginseng. Efek ekstrapiramidal yang semakin parah pada penggunaan obat-obat neuroleptik dengan bet nut (Areca catechu). Meningkatnya resiko hipertensi pada peng-gunaan yang bersamaan antara antidepresan trisiklik dengan yohimbine (Pausinystalia yohimbe). Khasiat kortikosteroid oral dan topikal dipotensiasi oleh penggunaan yang bersamaan dengan liquorice (Glycyrrhiza glabra). Serat larut seperti guargum dan psyllium (Plantago ovata) dapat menurunkan absorpsi obat karena itu penggunaannya harus diberi selang waktu 1-1,5 jam. Demikian juga konsentrasi fenitoin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan sirup ayurvedic shankhapushpi. Begitu banyak kasus interaksi obat dan tanaman obat telah dilaporkan dan diteliti. Di sinilah apoteker dan tenaga kesehatan lain berperan dalam menyarankan konsumen agar pada keadaan tertentu penggunaan obat bahan alam tidak bersama-sama dengan obat kimiawi, tetapi digunakan secara terpisah dengan selang waktu kurang lebih 2 jam. Untuk itu disarankan agar konsumen membaca brosur secara teliti. Beberapa informasi interaksi obat bahan alam dan obat kimiawi yang dapat dijadikan acuan dalam melakukan pelayanan informasi obat, dapat dilihat pada Buku Informatorium Suplemen Makanan Indonesia, yang telah selesai disusun oleh Badan POM dan secara resmi telah diluncurkan oleh Kepala Badan POM pada tanggal 30 Agustus 2004. (Dra. Tri Asti, MPharm)

Referensi

  1. WHO Drug Information, 18 (2), 2004, hlm 120-121

  2. Yuan, Chun-Su, Wei G, et.al. Brief Communication: American Ginseng Reduces Warfarin’s Effect in Healthy Patients, Annals of Internal Medicine 2004 July 6, 141 (1), 23-27.

  3. Fugh-Berman A, Herb-drug interaction (Abstract), Lancet 2000 Jan 8; 355 (9198): 134-8

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana