Jakarta – BPOM menggelar Workshop From Research to The Market melalui Fitur BRIDGE di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Rabu (13/5/2026). Workshop dibuka oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (Deputi 2 BPOM) Mohamad Kashuri, serta menghadirkan narasumber dari Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi I Ketut Adnyana; Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Yos Sunitiyoso, dan Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Imelda Ester Riana.
Masih adanya kesenjangan antara hasil penelitian di laboratorium dengan kebutuhan industri menjadi latar belakang kuat diluncurkannya BRIDGE. Kesenjangan ini menyebabkan pengembangan obat bahan alam kerap berhenti pada publikasi ilmiah atau laporan akademik tanpa mampu berkembang menjadi produk bernilai ekonomi.
“Oleh karena itu, fitur BRIDGE ini diluncurkan sebagai sarana yang mempertemukan hasil riset para peneliti dengan pelaku usaha yang membutuhkan inovasi produk,” jelas Deputi 2 BPOM.
Kashuri menyampaikan, BPOM terus mendorong percepatan hilirisasi hasil riset berbasis bahan alam agar dapat berkembang menjadi produk komersial yang terdaftar dan berdaya saing. Berbagai produk inovatif, seperti gummy berbahan daun kelor dan kulit buah naga merah, lulur dari bunga Frangipani, serta cookies kayu manis, menjadi contoh potensi besar pengembangan produk berbasis bahan alam di Indonesia, baik dalam bentuk obat bahan alam, kosmetik, maupun pangan olahan.
Berbagai hasil riset produk inovasi berbasis bahan alam telah banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia. Namun demikian, proses hilirisasi riset menjadi produk komersial yang terdaftar masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak riset di tingkat perguruan tinggi, fakultas, maupun lembaga penelitian, seperti Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan, yang masih berhenti pada tahap publikasi ilmiah atau laporan akademik dan belum berhasil bertransformasi menjadi produk yang tersedia di pasar.
Fitur BRIDGE diharapkan dapat menjadi platform yang dapat diakses oleh publik dan akan ditautkan dengan situs asosiasi pelaku usaha untuk memperluas peluang komersialisasi hasil riset. Setelah peluncuran hari ini, program “From Research to The Market” melalui fitur BRIDGE dapat diakses publik melalui laman registrasiotskk.pom.go.id/selasarotskk/BRIDGE. Kehadiran program ini diharapkan semakin mempercepat proses hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian menjadi produk siap pakai yang memiliki nilai ekonomi di pasar.
“Fitur BRIDGE tidak hanya sebagai platform data, tetapi juga sebagai instrumen percepatan transparansi kesiapan riset dan perluasan peluang komersialisasi melalui kolaborasi dengan industri. Melalui platform ini, pelaku usaha dapat mengadopsi hasil riset dari universitas maupun lembaga penelitian untuk dikembangkan menjadi produk yang terdaftar di BPOM,” imbuh Kashuri.
Fitur BRIDGE terhubung dengan berbagai asosiasi pelaku usaha yang telah menyatakan dukungannya, antara lain Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan Indonesia (APSKI), Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Asosiasi Industri Ekstrak Bahan Alam dan Rempah Indonesia (AIRINDO), Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPAK), Asosiasi Kosmetik Kontrak Manufaktur Indonesia (AKKMI), dan Asosiasi Pengusaha Kesehatan dan Kecantikan Indonesia (APK2I). Asosiasi tersebut diharapkan dapat mendorong anggotanya untuk memanfaatkan hasil riset yang tersedia pada platform BRIDGE.
Sementara itu, I Ketut Adnyana ikut menjelaskan upaya Kemendiktisaintek untuk membangun ekosistem riset dan pengembangan yang terintegrasi berdasarkan tantangan dan masalah nyata. “Intinya, kolaborasi dan implementasi dari ABGCM [academician/akademisi, business/bisnis, community /komunitas, government/pemerintah, dan media] menjadi kunci penting dan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.
BPOM terus mendorong peningkatan daya saing produk nasional dan memperkuat kemandirian industri kesehatan dalam negeri. BRIDGE menjadi manifestasi peran pemerintah sebagai jembatan penghubung agar hilirisasi bahan alam memiliki ekosistem yang solid, mulai dari ketersediaan bahan baku, data mutu dan khasiat yang kredibel, hingga kepastian serapan oleh industri. Selain itu, BRIDGE juga diharapkan menjadi bagian dari pengembangan lanjutan terhadap riset-riset bahan alam yang telah didampingi oleh unit pelaksana teknis BPOM, sesuai dengan potensi kearifan lokal di masing-masing daerah. (HM - Rizky)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
