Penajaman Roadmap Grand Design Penguatan Laboratorium Pengawasan Obat dan Makanan Tahun 2024

12-02-2024 Umum Dilihat 12525 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – Laboratorium pengawasan obat dan makanan menjadi bagian penting dalam Sistem Pengawasan Obat dan Makanan di tingkat Nasional. Untuk itu, perencanaan strategis penguatan laboratorium perlu disusun dengan baik dan berkesinambungan dalam bentuk perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Senin (12/02/2024), BPOM menyelenggarakan Workshop Grand Design Penguatan Laboratorium Pengawasan Obat Dan Makanan 2024--2029. Workshop ini diselenggarakan untuk merumuskan dan mempertajam roadmap implementasi Grand Design Penguatan  Laboratorium  Pengawasan  Obat  dan Makanan dalam lima tahun ke depan. Workshop ini dibuka langsung oleh Pelaksana Teknis (Plt.) Kepala BPOM RI, L Rizka Andalusia dan diikuti oleh seluruh Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, Pejabat Fungsional Ahli Utama, dan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan BPOM, serta turut dihadiri oleh stakeholder terkait.

Penyusunan grand design ini menjadi salah satu tahapan yang sangat penting dalam tugas pengawasan obat dan makanan BPOM. Di dalam grand design tersebut terdapat dokumen perencanaan jangka panjang yang berisi rumusan kondisi ideal yang diharapkan untuk laboratorium pengawasan obat dan makanan, dengan berorientasi hasil dan memperhatikan faktor risiko baik yang bersumber dari lingkungan eksternal maupun lingkungan internal. Perencanaan laboratorium ini juga mencakup strategi terobosan yang dilengkapi dengan target dan perubahan yang harus dilakukan, serta indikator kinerja yang relevan, jelas, dan terukur.

“Tantangan pengawasan obat dan makanan ke depan akan semakin berat. Beberapa di antaranya adalah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi produksi hingga distribusi produk serta perubahan gaya hidup konsumen. Karena itu, laboratorium yang ada, baik di tingkat pusat maupun unit pelaksana teknis (UPT) BPOM seluruh Indonesia, sebagai tulang punggung pengawasan obat dan makanan memiliki peran yang strategis dalam peningkatan sistem pengawasan obat dan makanan,” ujar Plt. Kepala BPOM dalam sambutannya. 

“Laboratorium BPOM harus memiliki kapasitas terdepan untuk menyediakan data hasil uji yang valid atas parameter keamanan, mutu, dan manfaat/khasiat obat dan makanan guna menghasilkan suatu kebijakan yg baik dan dapat diimplementasikan dalam pengawasan obat dan makanan,” lanjutnya.

Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN), Susan Gracia Arpan menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang dilakukan laboratorium pengawasan obat dan makanan saat ini adalah aktivitas laboratorium yang mengonsumsi energi dan sumber daya yang tinggi. Hal ini berdampak terhadap degradasi kualitas lingkungan hidup, serta ketertinggalan kemampuan dalam mengejar teknologi pengujian dan penentuan standardisasi yang membuka celah bocornya risiko kesehatan akibat produk yang berbahaya.  

Terkait kondisi tersebut, salah satu narasumber yang hadir, yaitu Prof. Dedy Ferdiaz, menekankan outcome workshop hari ini adalah tersusunnya tiga keluaran strategis (strategic outcome). Outcome tersebut, yaitu pengembangan laboratorium yang memenuhi standar internasional berdasarkan tingkatan regionalisasi, laboratorium tersebar di lokasi strategis dan terkoneksi jejaring laboratorium terpadu berbasis digital, serta terwujudnya green laboratory berdasarkan prinsip keberlanjutan.

Pungkas Bahjuri Ali dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ikut menyampaikan tanggapannya terkait grand design ini. Menurutnya, penguatan sistem pengawasan pangan dan sediaan farmasi harus dilakukan dengan mendukung pelaksanaan pengawasan terhadap bahan baku obat, pengawasan siber, dan farmakovigilans. “Serta perlu dilengkapi pula dengan penegakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan perundang-undangan yang ada,” tukasnya. 

Mengingat semakin luasnya cakupan pengujian, semakin banyaknya produk yang diawasi, serta banyaknya laboratorium UPT yang melakukan pengujian dengan beban kerja yang tidak merata dengan berbagai kondisi yang berbeda, maka perencanaan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) perlu dirumuskan dengan baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi laboratorium. Melalui workshop ini, diharapkan dapat diperoleh rekomendasi yang tepat dan aplikatif untuk tersusunnya grand design yang dapat menjadi acuan pengembangan laboratorium pengawasan obat dan makanan di seluruh Indonesia, serta turut mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045. (HM-Rasyad)

 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana