Xiamen, Tiongkok – Masih dalam rangkaian kunjungan kerja BPOM ke Tiongkok, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan kuliah umum di hadapan sivitas akademika School of International Relations, Research School for Southeast Asian Studies, Xiamen University (XMU) pada Jumat (7/11/2025). Turut hadir menyambut Kepala BPOM bersama rombongan delegasi Indonesia, yaitu Vice Dean of School of International Relations/Research School for Southeast Asian Studies XMU Zhang Miao, Coordinator of International Affairs of School of International Relations/Research School for Southeast Asian Studies XMU Chen Zhangwei, serta para ilmuwan Research School for Southeast Asian Studies XMU.
XMU dikenal sebagai universitas terindah di Tiongkok, dengan lokasi dikelilingi oleh bentang alam yang indah. Universitas ini didirikan pada tahun 1921 oleh Tan Kah Kee, seorang pemimpin perantau patriotik terkenal di Tiongkok. XMU juga diakui sebagai institusi penelitian tertua dan paling berpengaruh untuk kawasan Asia Tenggara, dengan koleksi jurnal Studies of Southeast Asian Affairs dan koleksi perpustakaan yang kerap disebut terlengkap di Tiongkok untuk Asia Tenggara dan diaspora Tionghoa perantauan.
Di hadapan sivitas akademika Research School for Southeast Asian Studies XMU Kepala BPOM menyampaikan topik “The Role of Indonesian FDA at The National, Regional, and International Level”. Fokus paparan yang disampaikan mengenai regulasi terhadap inovasi dan pengembangan vaksin pada masa pasca-pandemi COVID-19, serta dukungan BPOM terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah diusung pemerintah Indonesia.
Mengawali kuliah umumnya, Taruna Ikrar menyatakan rasa terima kasih kepada Xiamen University yang telah menerima kunjungan delegasi BPOM dan memberi kesempatan untuk berbagi pengetahuan melalui kegiatan public lecture. “Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas sambutan hangat yang diberikan kepada saya dan delegasi BPOM. Suatu kehormatan dan keistimewaan bagi saya untuk dapat mengunjungi Universitas Xiamen dan menyampaikan kuliah umum di institusi bergengsi ini,” ujar Taruna Ikrar.
Taruna kemudian berbagi pengalaman mengenai beberapa strategi utama yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi pandemi COVID-19. Strategi tersebut mencakup vaksinasi massal, pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat, penyediaan obat-obatan COVID-19 serta tenaga medik dan fasilitas yang mendukung, dan menyatukan semangat seluruh pemangku kepentingan dalam melawan pandemi.
Selanjutnya, Taruna menyampaikan target Presiden RI Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang dinilai sebagai jalan bagi Indonesia untuk keluar dari middle-income trap. Dalam mewujudkan hal ini, Ia menegaskan di hadapan audiens mengenai pentingnya health resilience (ketahanan kesehatan) yang menjadi kunci utamanya.
Bercermin dari pengalaman Indonesia di masa pandemi, Taruna menerangkan pentingnya sinergi lintas sektor sebagai jurus jitu yang efektif dalam penanganan masalah kesehatan. Lebih lanjut, Taruna memaparkan model triple helix, yaitu bentuk sinergi antara academic, business, dan government” (ABG) yang sukses diterapkan Indonesia dalam melewati pandemi COVID-19 lalu. Ia menjadikan konsep ABG sebagai ekosistem berkelanjutan, khususnya di bidang inovasi obat.
“Pengembangan industri biofarmasi dalam negeri harus terus diperkuat melalui sinergi dan kolaborasi yang optimal antara pilar akademisi, bisnis, dan pemerintah (ABG),” papar Taruna dalam penjelasannya.
Menjawab tantangan kesehatan global ke depan, BPOM menitikberatkan kesatuan dan kolaborasi bersama dalam lanskap global yang saling menguntungkan antar pihak serta menjadikannya sebagai langkah jitu mencapai global health resilience. Model triple helix kiranya mampu diadopsi dalam tingkat global yang lebih kompleks.
Menanggapi paparan Kepala BPOM, Vice Dean of School of International Relations/Research School for Southeast Asian Studies XMU Zhang Miao menyampaikan apresiasi terhadap kinerja BPOM. “Saya mengapresiasi pendekatan Indonesian FDA (BPOM) dengan mengembangkan model triple helix ABG sebagai kerangka kolaborasi kerja dalam menjawab tantangan kesehatan,” tutur Zhang Miao.
Selain itu, Zhang Miao juga berharap program MBG yang sedang menjadi fokus Indonesia saat ini dapat terus terjaga keamanan pangan dan mutunya, khususnya bagi anak-anak sekolah yang menjadi penerima manfaat program ini. Beliau menegaskan pentingnya food safety sebagai indikator terutama dalam program MBG tersebut.
Taruna Ikrar juga memotret peluang kolaborasi lanjutan antara BPOM dan XMU yang dapat dipandang sebagai konektivitas kedua institusi dan negara dalam mencapai global health resilience. Potensi kolaborasi tersebut dapat diupayakan melalui beberapa langkah konkret, seperti program peningkatan kapasitas dan pelatihan bagi regulator dan pakar laboratorium, inisiatif riset bersama terkait isu-isu terkini dalam pengawasan farmasi dan keamanan pangan, pertukaran data ilmiah dan pengetahuan regulasi, kolaborasi dalam transformasi digital dan metode analisis mutakhir, serta pertukaran akademis dan program magang sebagai upaya memperkuat hubungan profesional dan kelembagaan kedua pihak.
“Sekali lagi terima kasih atas sambutan hangat dan komitmen Xiamen University terhadap kemitraan kita. Kami yakin bahwa pertemuan hari ini akan semakin mempererat kolaborasi yang bermanfaat antara BPOM dan Xiamen University,” ujar Taruna lagi.
Menutup sesi kuliah umumnya, Taruna Ikrar kembali mengajak seluruh pihak di dunia untuk terus berkolaborasi bersama dalam menciptakan global health resilience di masa depan, dengan tanpa meninggalkan negara manapun. “Saat kita menatap masa depan, tidak ada bangsa yang berdiri sendiri dalam menghadapi ancaman penyakit. Dunia harus bekerja sama, berbagi pengetahuan, sumber daya, dan solidaritas untuk menjaga kesehatan global dan memastikan masa depan yang tangguh bagi semua,” pungkasnya. (HM-Julio/HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
