Jakarta – BPOM menggelar webinar bertajuk “Jauhi Sarkopenia: Ketahui Nutrisi dan Suplemen yang Tepat”, Selasa (12/11/2025). Melalui kegiatan ini, BPOM memberikan edukasi mengenai pentingnya penggunaan suplemen kesehatan yang tepat dan aman dalam upaya pencegahan sarkopenia yang semakin banyak dialami masyarakat Indonesia.
Webinar ini menghadirkan narasumber, yaitu Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (Deputi 2) Mohamad Kashuri serta Ahli Gizi Rita Ramayulis. Kegiatan secara hybrid dengan total peserta 837 orang dihadiri peserta dari beragam komunitas masyarakat, antara lain Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), IndoRunners Runiversity, OHaSu Health Community, Hiking Sistravel, Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), Karate INKAI, Bulutangkis Faustina, Norex Pingpongs, serta pegawai BPOM dari unit pusat maupun unit pelaksana teknis di berbagai daerah.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (Deputi 2) Mohamad Kashuri menyampaikan bahwa prevalensi sarkopenia di Indonesia berkisar antara 9,1%–59%. Sarkopenia merupakan gangguan otot rangka umum yang ditandai dengan hilangnya massa otot dan gangguan fungsi otot, serta berhubungan dengan hasil kesehatan yang buruk.
“Suplemen kesehatan bukan berfungsi mengobati, tetapi dapat melengkapi kebutuhan zat gizi, memelihara, serta meningkatkan/memperbaiki fungsi kesehatan,” ujar Kashuri. Lebih lanjut, Kashuri menegaskan agar masyarakat bijak dalam memilih produk suplemen kesehatan yang akan dikonsumsi dengan memeriksa izin edar BPOM, membaca label dengan teliti, dan mewaspadai klaim berlebihan.
Hingga September 2025, BPOM mencatat ada 49 produk suplemen kesehatan yang telah memiliki momor izin edar (NIE) dengan indikasi membantu peningkatan massa otot. Produk-produk tersebut dapat digunakan oleh masyarakat dengan tetap memperhatikan aturan pakai dan kebutuhan individu.
Sementara itu, pakar gizi Rita Ramayulis memaparkan bahwa satu dari sepuluh orang dewasa di dunia mengalami sarkopenia. “Namun, sarkopenia yang dulunya muncul pada lanjut usia (lansia), kini mulai terjadi pada anak muda atau usia produktif,” jelasnya.
Beberapa keluhan klinis yang terjadi pada penderita sarkopenia adalah kelemahan otot, stamina rendah, malas gerak, postur tubuh memburuk, nyeri sendi dan berdiri tidak stabil, kehilangan keseimbangan, maupun nyeri leher dan punggung. Untuk mencegah kondisi tersebut, Rita menekankan pentingnya pemenuhan gizi harian, khususnya protein, kalsium, vitamin D, dan omega-3, diikuti dengan latihan fisik secara teratur. “Apakah kebutuhan protein harian Anda sudah terpenuhi? Karena tanpa asupan yang cukup, massa otot akan terus menurun dan tulang ikut terbebani,” tambahnya.
Sebagai penutup, Kashuri mengajak masyarakat untuk memulai pencegahan sejak dini. “Pencegahan sarkopenia dimulai dari hari ini dengan gizi seimbang, aktivitas fisik, dan konsumsi suplemen kesehatan yang tepat dan aman,” kata Kashuri. (HM-Maulvi)
BIRO KERJA SAMA DAN HUBUNGAN MASYARAKAT
