Jakarta – Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan, “BPOM menyikapi serius pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang optimis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 8% pada 2027—2029”. Penegasan ini disampaikan Taruna Ikrar pada kesempatan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 kementerian/lembaga di Kantor BPOM, Selasa (2/12/2025).
Presiden Prabowo juga mendorong Taruna Ikrar untuk dapat mengatasi tantangan dalam mewujudkan kemandirian industri farmasi di Indonesia sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.Taruna Ikrar lalu menguraikan peran strategis BPOM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. BPOM berkontribusi terhadap 30–40% perekonomian nasional melalui pengawasan obat, pangan, dan produk kesehatan. Potensi ekonomi dari perkembangan industri obat dan makanan yang dihasilkan di Indonesia menyumbang profit hingga Rp6.000 triliun per tahun dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi mencapai 8%.
Langkah inovatif yang ditawarkan Kepala BPOM adalah dengan mengembangkan konsep sinergi ABG (academia-business-government) sebagai model ekosistem inovasi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan. Taruna Ikrar menguraikan bahwa gagasan konsep tersebut didasari dari dorongan sekaligus tantangan yang diterimanya dari Presiden RI Prabowo Subianto sesaat setelah dilantik sebagai Kepala BPOM RI
Konsep Sinergi ABG yang dicetuskan Taruna Ikrar ini telah mendapat pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta pada Senin (1/12/2025). Konsep tersebut diakui sesuai Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum RI atas Hak Cipta berupa Karya Ilmiah berjudul “Konsep Sinergi ABG sebagai Model Ekosistem Inovasi Indonesia untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Pengetahuan”.
“Konsep yang merupakan intellectual property (hak cipta tulisan) ini saya tuangkan sebagai model strategis yang dapat mendukung kebijakan nasional, kolaborasi internasional, dan hilirisasi hasil riset, serta memperkuat industrialisasi berbasis teknologi,” ujar Taruna Ikrar.
Ia menambahkan bahwa gagasan konseptual ini bahkan telah diaplikasikan BPOM dengan lintas sektor terkait dalam kerangka kerja sama yang lebih memiliki arah. Konsep yang lebih gamblang juga telah diuraikan dalam bukunya yang berjudul ‘Sinergi ABG: Kolaborasi Akademisi, Bisnis, dan Pemerintah untuk Membangun Ekonomi Inovatif Indonesia’.
Sinergi ABG mengedepankan kolaborasi yang saling mengisi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. Pemerintah, dalam hal ini BPOM, mendorong format kolaborasi lintas sektor dalam inovasi dan pengembangan produk obat dan makanan yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Langkah ini juga sejalan dengan pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui rekaman video yang ditayangkan saat pembukaan kegiatan Gebyar ABG Collaboration, Sabtu (15/11/2025). Gibran menyatakan bahwa pemerintah memberikan perhatian besar pada pengembangan inovasi yang mampu menjadi solusi atas berbagai kondisi saat ini. Ia menegaskan kolaborasi akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci lahirnya gagasan baru dan kerja bersama yang mampu memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
Sinergi ABG memungkinkan arus kerja sama penelitian, pengembangan, dan hilirisasi produk dapat berjalan lebih terarah dalam satu ekosistem yang saling berinteraksi dan membangun. Tantangan regulasi yang dihadapi 3 unsur ini akan direduksi dan diakselerasi melalui pendekatan kolaboratif. Esensi Sinergi ABG akan mengubah peran pemerintah dari sekadar pengawas menjadi fasilitator inovasi yang memastikan keamanan publik tanpa menghambat kreativitas pelaku usaha. Ini juga esensi perubahan pengawasan dari watchdog control (pengawasan reaktif) menjadi pengawasan yang proaktif, memperbesar porsi bimbingan, dan katalis yang mempercepat pencapaian tujuan bersama untuk kepentingan masyarakat.
Salah satu momentum penting dalam penguatan Sinergi ABG adalah lahirnya Memorandum of Agreement (MoA) antara 37 industri farmasi dari 6 negara dan 20 perguruan tinggi di Indonesia pada Sabtu (15/11/2025). Gagasan ini berhasil mempertemukan para inovator dari kampus dan industri dalam satu momentum kolaboratif. Gagasan ini juga memperkuat kerangka kerja inovasi nasional melalui kolaborasi dengan 6 negara (Korea Selatan, India, Singapura, Malaysia, Tiongkok, dan Indonesia), serta menunjukkan potensi terbentuknya pusat inovasi regional.
Konsep ini juga telah diperkenalkan kepada stakeholders di Tiongkok pada November lalu. Sinergi ABG juga diapresiasi dan dinilai menjadi dasar yang kuat dalam pengembangan kerja sama ekonomi strategis pengembangan pusat riset bersama antara Indonesia–Tiongkok. Kerja sama pengembangan obat tradisional dan bioteknologi dengan Tiongkok dapat terus dikembangkan dengan mengacu pada model kolaborasi Sinergi ABG. Kepala BPOM mengungkapkan dengan sinergi ini, potensi nilai ekonomi kerja sama Indonesia dan Tiongkok yang akan terjalin diproyeksikan mencapai Rp10 triliun dalam jangka waktu 5 tahun ke depan.
Taruna menambahkan bahwa kini saatnya Indonesia tidak hanya berbicara tentang inovasi, tetapi membangunnya. Sinergi ABG telah menunjukkan bahwa ketika akademisi, bisnis, dan pemerintah bergerak bersama, lahirlah sebuah mesin ekonomi baru, yaitu mesin yang tidak bergantung pada sumber daya alam, tetapi pada kreativitas manusia.
“Jika terus didorong, ia dapat membawa Indonesia ke era ekonomi berbasis pengetahuan yang lebih berdaya saing, berkelanjutan, dan inklusif. Sinergi ABG adalah masa depan ekonomi Indonesia, dan momentum yang kita bangun hari ini, akan terus kita perjuangkan,” ujarnya menutup penjelasan. (HM-Herma/Eka)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
