Training Course on Bioanalytical Aspect in BE Studies

02-09-2013 Umum Dilihat 1855 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Umum

Lebih dari 60 peserta yang berasal dari berbagai negara ASEAN mengikuti kegiatan Training Course on Bioanalytical Aspect in BE Studies, yang berlangsung selama 3 hari, 28-30 Agustus 2013 di Jakarta. Peserta training terdiri dari perwakilan industri farmasi di Indonesia dan juga dari Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam.

Acara yang dibuka resmi oleh Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA Badan POM, Dra. Antonia Retno Tyas Utami, Apt., M.Epid. tersebut mengambil topik tentang pentingnya pemahaman persyaratan BA/BE serta investigasi BE studi untuk produk inhalasi oral.“Pelatihan ini akan memberikan masukan yang signifikan untuk menjaga kesehatan masyarakat, serta untuk memastikan bahwa obat-obatan di Indonesia memenuhi persyaratan undang-undang dan sesuai standar keselamatan, kualitas, dan manfaat”, ungkap Retno Tyas. Di sisi lain, dengan mengikuti pelatihan ini, maka para peserta, khususnya para Evaluator Badan POM dapat memastikan bahwa penelitian BE dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan regulasi BE di Indonesia.

"Ini termasuk peningkatan status Indonesia sebagai perusahaan farmasi regional, dan penerimaan global kualitas produk farmasi yang diproduksi dan diekspor dari Indonesia", ujar Retno Tyas selanjutnya. Tujuan lain dari sisi pelaku usaha adalah harapan bahwa dengan pelatihan ini bisa menjadi pemicu agar produk Indonesia memiliki kualitas yang baik, utamanya obat generik dan pengembangan produk inhalasi oral. Selanjutnya, BE studi untuk obat lokal dapat dilakukan di Indonesia, sehingga bisa memotong biaya produksi dan pada akhirnya harga obat lebih terjangkau.

Nara sumber pelatihan berkebangsaan Denmark, Dr. Anders Fuglsang, yang saat ini bekerja untuk WHO, dengan sangat interaktif memaparkan presentasinya, yang dapat dengan mudah dicerna para peserta. Hal itu terlihat dari antusiasme peserta yang sangat tinggi dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Dengan pemahaman tentang materi pelatihan, akan membawa banyak manfaat bagi Indonesia dan sektor manufaktur farmasi. Selain itu, untuk meningkatkan kepatuhan terhadap persyaratan global, sehingga obat diproduksi lokal termasuk Indonesia dapat diterima di dunia.

 

Biro Hukum dan Humas

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana