PENJELASAN BADAN POM Tentang Tidak Ada Kaitan Autisme Dengan Kandungan Thiomersal Dalam Vaksin

27-12-2019 Dilihat 13509 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

PENJELASAN BADAN POM

Tentang

Tidak Ada Kaitan Autisme

Dengan Kandungan Thiomersal Dalam Vaksin

 

 

Sehubungan dengan munculnya kembali isu mengenai autisme akibat kandungan thiomersal dalam vaksin yang digunakan untuk imunisasi, Badan POM telah melakukan pengkajian bersama Komite Nasional Pencegahan dan Pengendalian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMNAS PP KIPI) dan menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Imunisasi dilaksanakan dengan pemberian vaksin.
  2. Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati atau mikroorganisme hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lainnya, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.
  3. Thiomersal adalah senyawa organomerkuri yang digunakan sejak tahun 1930 sebagai pengawet pada berbagai sediaan farmasi seperti vaksin, imunoglobulin, tetes mata, dan kosmetik.
  4. Thiomersal digunakan sebagai pengawet pada formulasi vaksin untuk penggunaan multi dosis. Saat ini, vaksin yang digunakan di Indonesia (DPT, HB, DT, Td, TT dan Influenza) menggunakan Thiomersal dengan kadar yang sangat kecil (0,01%).
  5. Studi epidemiologi yang dipublikasikan pada tahun 2004 dan dilaksanakan di Inggris, Amerika, Denmark, dan Swedia menyatakan tidak ada hubungan sebab-akibat antara penggunaan thiomersal dari vaksin dengan gangguan autisme.
  6. WHO’s Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) menyatakan bahwa tidak ada bukti toksisitas terhadap bayi, anak-anak, dan orang dewasa yang menerima thiomersal dalam vaksin.
  7. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dilaporkan kepada Badan POM akan terus dilakukan pengkajian hubungan kausal bersama KOMNAS PP KIPI.
  8. Badan POM akan terus memantau dan mengkaji efektivitas serta keamanan semua vaksin yang digunakan di Indonesia dan memberikan informasi kepada masyarakat sesuai dengan data yang terbaru.

 

Masyarakat dihimbau untuk tidak resah dengan isu ini. Jika masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut dapat menghubungi apoteker, dokter, tenaga kesehatan lainnya, atau Contact Center HALOBPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 08121-9999-533, WhatsApp 0811-9181-533, email halobpom@pom.go.id atau Twitter @BPOM_RI atau Instagram @bpom_ri atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) di seluruh Indonesia.

Apabila masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut atau menyampaikan pengaduan obat dan makanan, dapat menghubungi lapor.go.id, Contact Center HALOBPOM 1-500-533 (pulsa lokal), SMS 0812-1-9999-533, WhatsApp 0811-9181-533, e-mail halobpom@pom.go.id, Instagram @BPOM_RI, Facebook Page @bpom.official, Twitter @BPOM_RI, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai/Loka POM di seluruh Indonesia.

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana